[REVIEW] Day 1 : Ingin di Cintai, Apa Salahnya?

Haii…. Apa kabar!

Seperti janjiku sebelumnya aku akan mencoba membahas tentang buku seri ke-2 “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpoki” bagi kalian yang sudah lupa dengan ulasanku pada buku pertamanya kalian bisa baca disini yah..

[Review] Sebuah Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpoki”

Jadi di buku seri ke 2 ini cerita yang dibahas oleh penulis kalau menurut aku cukup kompleks yah…bahkan penulis disini udah mulai nyayat-nyayat diri sendiri. Kebayangkan Se depresi apa ia menghadapi perang pikiran dalam kehidupannya.

Tapi, kalau dari segi tampilan bukunya. Aku lebih tertarik sama buku yang pertama karena kesannya lebih menarik. Kalau buku ke dua ini tidak terlalu banyak desain jadi terlihat lebih kaku. Apalagi ditambah pembahasannya yang lebih berat. Makanya pada saat menamatkan buku ini berat banget karena kita ga dapat hiburan pada saat memindah mindahkan halaman bukunya.

Oleh karena itu aku akan mereview buku ini perchapter karena kalau dibahas secara merata itu sayang. Soalnya banyak kalimat-kalimat indah yang seakan akan mewakili perasaan kita. Meski kita tahu bahwa permasalahan yang kita alami itu satu konteks tapi beda alurnya..

Nah, dihari pertama ini aku akan membahas subjudul : Ingin Dicintai, Apa Salahnya?

Pada subjudul ini penulis menceritakan keadaanya pada psikiaternya bahwa akhir-akhir ini ia tiba-tiba teringat akan memori masa lalunya. Bukan tentang masa lalu yang indah-indahnya saja. Tapi ini lebih ke masa lalu nya yang kurang menyenangkan. Dari pengalaman nya yang sering tidak mendapatkan perhatian lawan jenis. Terus pas ia suka seseorang, orang yang ia sukai malah malu dan tidak senang di sukai olehnya. Makanya ia sering bertanya tanya “apanya yang jelek?” “Apa mungkin karena aku gendut” “aku ini membawa kebencian, dan aku tidak bernilai” dan masih banyak lagi umpatan-umpatan yang ia berikan pada dirinya sendiri. Kalau aku nanggepin cerita itu jujur sedih banget. Di umur yang bukan lagi anak-anak ini aku sering nge-blame my self begitu. Kayak sering berperang dalam pikiran “kok ga ada yang suka yah sama aku?” “Apa emang aku jelek banget?” Hal ini sebenarnya sudah sering aku bahas di tulisan tulisan ku. Rasanya ingin terbebas dari pikiran ini, tapi aku kembali mengumpat “I cant do this!”

Dari sanalah semuanya terbuka, permasalahan hidup yang complicated, masa lalu yang buruk, kadang ingin membuang masa lalu itu, tapi itu ga akan bisa. Meski pada sekarang setidaknya sudah ada perubahan dalam diriku aku ya tetap aku, tapi mungkin cangkangnya saja yang sudah berubah.

❤️ P : Sebenarnya, siapa yang menekan anda?

❤️ A : Tidak, tidak ada yang menekan saya!

Kemudian maju ke keadaan sekarang, setelah menceritakan masa lalunya yang kurang menyenangkan itu. Penulis juga akhir-akhir ini terserang tekanan di dunia kerjanya. Ia jadi sering mempertanyakan apa pekerjaan yang ia lakukan sekarang adalah passionnya atau bukan. Seperti pengalaman yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku bingung, akan pekerjaan yang sedang aku lakukan. Semuanya penuh dengan konflik yang bahkan keseluruhan konflik itu tidak ada satu tempat yang menguntungkan bagiku. Akhirnya aku terjebak dalam situasi ini.

“Hanya karena kita mengingat pengalaman ekstrem, bukan berarti pengalaman itu dapat menjelaskan seluruh esensi kita”

Dan satu pesan terakhir yang aku tangkap di akhir subjudul ke satu ini adalah saking kita sibuknya memikirkan masalah sendiri sering kali kita lupa bahwa kita juga mungkin pernah jadi orang yang melukai seseorang. Memang, menjadi manusia itu sulit. Kita hanya butuh kesadaran tapi mendapatkan kesadaran itu tidaklah mudah.

Fin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s