[Review] Sebuah Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

Assalamualaikum…..

Sebelumnya aku mau mengucapkan “Minal Aidin Walfaidin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin” mungkin dari beberapa catatan yang aku posting terselip kata-kata yang kurang berkenan, mohon dimaafkan dan dikoreksi juga yah teman-teman.

Alhamdulilah, tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan ini adalah lebaran ke 23 kali aku selama menjalani hidup. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita yah. Karena yang namanya umur, rezeki, dan jodoh tidak ada yang tahu, semuanya kembali lagi ke sang pemilik alam semesta yaitu Allah SWT.

Baiklah….kali ini aku akan mencoba lebih serius gaess..hehhe soalnya aku mau mencoba menulis sebuah review buku yang menarik dan bukunya juga mendapat predikat bestseller di korea selatan sana….. yup, kali ini aku mau membahas sebuah buku terjemahan yang berjudul

“I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

Dari judul yang ekstream ini lah, aku langsung jatuh hati untuk membeli buku ini, diawali dari postingan status teman yang memfotokan cover buku ini akhirnya akupun tertarik dan langsung memesan lewat aplikasi belanja online dan alhamdulilahnya lagi dalam waktu 2 hari buku ini telah sampai digenggamanku.

Rasanya ga rugi beli buku ini, karena bukunya bagus banget dari judul, cover, terus desain disetiap halamanya yang indah berbalut warna ungu muda dan pink.

Buku ini ditulis oleh Baek Se Hee, penulisnya cantikk sekalii, kalian pasti tidak akan menyangka bahwa orang yang kita lihat punya kehidupan yang sempurna seperti ia mengalami distimia. Distimia sendiri adalah bentuk kronis (jangka panjang) dari depresi. Ia mengidap gangguan ini hampir lebih 10 tahun dan akhirnya ia pun menuliskan catatan pengobatanya selama melakukan konsultasi bersama psikiaternya. Dan kenapa bukunya dikaitkan dengan makanan kaki lima bernama tteokpokki karena tteokpokki adalah makanan kesukaan sang penulis.

Jujur aku begitu terharu dengan pemilihan sub-sub judul yang dibuat oleh penulis. Karena itu seperti membuat kita berkata “ah, ini kaya aku” “kenapa bisa relate dengan kehidupanku saat ini” karena pada kenyataanya aku yakin semua orang punya fase terberat dalam kehidupannya masing-masing.

Sejak kecil aku adalah tipe orang yang pemalu juga introvet sampai sebesar ini pun kadang pikiranku sering negatif dan akhirnya membenci diriku sendiri. Apalagi satu tahun kebelakang ini rasanya dadaku begitu nyeri ketika mengingat ingat kembali kejadian yang sering membuatku kecewa. Baek Se Hee mungkin lebih beruntung karena dia bisa memeriksakan dirinya ke rumah sakit, setidaknya ia mencoba untuk membuat hidupnya lebih baik. Kalau aku mungkin belum tentu bisa sesurvie penulis dalam mengatasi segala permasalahan.

Hampir sama seperti pengalaman penulis aku menjadi pribadi yang tidak percaya diri ini sejak kecil. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana tapi seringkali orang-orang disekitar selalu bersikap segan pada keluargaku, entah apa alasanya tapi dari itu pergerakanku seakan tidak bebas karena orang-orang sering memandangku berbeda.

Semakin dewasa aku juga sering menganggap bahwa aku tidak terlihat cantik karena orang-orang sering memandangku sebelah mata, masih ingat dulu saat aku SMA ada sebuah mata pelajaran yang membuat aku harus berkelompok. Pengelompokan belajar pun dilakukan oleh guru namun pada saat namaku di sebutkan ada seorang teman kelas yang mendapatkan predikat “siswi cantik” berceletuk “ah…” dengan nada kecewanya karena ia harus berkelompok denganku. Jujur aku cukup tersinggung pada saat itu. Namun yang lucunya lagi saat tugas diberikan “siswi cantik” itu tidak melakukan apa-apa dan yang melakukan presentasi kedepan adalah aku si siswa yang tidak cantik, apakah aku dapat apresiasi dari dirinya ? Dan jawabanya adalah ‘TIDAK’

Perihal asmara aku bingung ingin menyebutnya seperti apa, di buku ini penulis menceritakan kisah bersama kekasihnya, disini aku sedikit menjadi iri pada penulis karena dia bisa merasakan rasa kasih sayang dari orang lain. Entah aku yang tidak peka dalam masalah rasa, tapi ini sedikit membuatku frustasi. Kadang ketika sendirian aku sering berpikir “sebenarnya kenapa dengan aku?” “Apa ada yang aneh?” Semuanya seakan gelap bagiku, rasanya ini memang tidak adil.

“Sekarang aku ini sedang bertindak berlebihan. Sebenarnya, kondisiku tidak sesulit itu tapi aku hanya melebih-lebihkanya” (hal 171)

Ya, memang benar aku hanya melebih lebihkan saja.

Sebenarnya saking banyaknya bagian yang menarik dari buku ini, aku benar-benar pusing memilih kalimat-kalimat mana yang harus aku tuliskan disini. Oh iya, dari buku ini juga kita bisa belajar tentang kata-kata psikologis seperti:

Dilema landak (suatu kondisi dimana sepasang hati yang sebenarnya saling menginginkan kedekatan satu sama lain tetapi disaat bersamaan memiliki kecenderungan untuk menjaga jarak) terus ada istilah

Faking Bad (kondisi dimana seseorang merasa keadaan dirinya lebih buruk dari yang sebenarnya) ada juga istilah

Mitomania, Black and White Thinking, Fortune Telling,Ambivalensi, Kepribadian Histrionik, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu tentang dunia kejiwaannya disini… aku yakin siapa pun yang membaca buku ini pasti akan nangis juga..😭

Intinya dari esai yang dibuat penulis ingin menyampaikan bahwa apa yang ia tulis sebenarnya bisa juga dirasakan oleh orang lain meski dalam konteks masalah yang berbeda. Sebenarnya sepanjang membaca percakapan antara penulis dan psikiater tidak dicantumkan solusi-solusi yang mampu mengatasi gangguan ini. Namun diakhir, penulis akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan sendiri yang diharapkan mampu merefresh segala pikiran-pikiran ekstreamnya. Aku rasa berpergian sendiri bisa jadi cara ampuh untuk mengurangi segala beban hidup yang tiada akhirnya..hehehehe

Untuk lebih jelasnya kalian bisa baca sendiri yah..hohohoho

Dan aku kasih ⭐⭐⭐⭐ dari 5 bintang. 1 bintangnya lagi aku tinggalkan karena ada beberapa kalimat yang sulit aku pahami..hehehehe

Sekian dari aku.

Semoga kalian bahagia 🌞🌞

4 thoughts on “[Review] Sebuah Buku “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki”

  1. Mantaaaaap. Terima kasih review-nya. Di base orang-orang sering ngomongin buku ini, tetapi aku gak tahu mereka ngomongin apa. Jadi aku punya sedikit gambaran setelah membaca review yang kamu tulis. Artikel yang bermanfaat.

    Like

  2. Aku belum selesai baca malahan. Kadang terasa berat dipahami karena terjemahan. Harus bener-bener manghayati kalau baca ini he.Kren kamu udah selesai baca 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s